WALI SONGO
Bersyukur rasanya tak terhingga, ada masjid di dekat rumah. Saat lembayung senja merambat perlahan di ufuk, aku bergegas ke sana. Langkahku ringan, hatiku penuh harap. Dalam benakku terlintas keyakinan sederhana: pasti jamaahnya ramai. Senja biasanya mengundang orang-orang pulang kepada Tuhan. Namun sesampainya di pelataran, masjid itu menyambutku dengan sunyi. Jam sudah menunjukkan waktunya, tapi lantai masih lengang. Hanya angin sore yang berbisik di sela-sela tiang, dan aroma semen yang belum sepenuhnya kering. Aku berdiri sejenak, ragu lalu berniat azan. Keinginan itu tumbuh begitu saja, seperti panggilan dari dalam dada. Aku mencari-cari, di mana mikrofon, di mana penguat suaranya. Berkutat dengan kabel dan tombol, merasa kikuk seperti orang asing di rumah yang seharusnya ramah. Hingga akhirnya, sebuah klik kecil terdengar mikrofon hidup. Aku tarik napas, dan azan pun mengalir dari bibirku. Suaraku menggema, menabrak dinding-dinding yang belum selesai, lalu melayang keluar menembu...