Murid Pertama
Sejak senja itu, langkah kakiku seolah telah menemukan arah pulang. Masjid Al Hidayah bukan lagi bangunan yang kupandangi dari kejauhan, melainkan ruang yang memanggil namaku diam-diam. Hari-hariku mulai diukur oleh azan dan iqamah, oleh sajadah yang terbentang, oleh salam yang saling bersahutan. Aku pun menjadi bagian dari saf yang tetap. Suatu malam, setelah beberapa kali berdiri di barisan depan, para jamaah menyampaikan sesuatu yang membuatku tercekat. Mereka ingin aku menjadi imam kedua—setelah imam pertama , Aku menolak halus. Bukan karena tak mau, tapi karena merasa belum pantas. Namun mereka menilai bukan dari lisanku, melainkan dari apa yang mereka lihat: . Akhirnya, aku menerima. Dengan hati yang gemetar, tapi pasrah. Meski begitu, ada satu hal yang terus mengganjal di dadaku. Masjid ini belum hidup sepenuhnya. Ia berdiri, ya. Ia menampung sujud, ya. Tapi belum terdengar suara anak-anak mengaji, belum ada lingkaran ilmu, belum ada cahaya kecil yang menyala di antara ...