WALI SONGO


Bersyukur rasanya tak terhingga, ada masjid di dekat rumah. Saat lembayung senja merambat perlahan di ufuk, aku bergegas ke sana. Langkahku ringan, hatiku penuh harap. Dalam benakku terlintas keyakinan sederhana: pasti jamaahnya ramai. Senja biasanya mengundang orang-orang pulang kepada Tuhan.

Namun sesampainya di pelataran, masjid itu menyambutku dengan sunyi. Jam sudah menunjukkan waktunya, tapi lantai masih lengang. Hanya angin sore yang berbisik di sela-sela tiang, dan aroma semen yang belum sepenuhnya kering. Aku berdiri sejenak, ragu lalu berniat azan. Keinginan itu tumbuh begitu saja, seperti panggilan dari dalam dada.

Aku mencari-cari, di mana mikrofon, di mana penguat suaranya. Berkutat dengan kabel dan tombol, merasa kikuk seperti orang asing di rumah yang seharusnya ramah. Hingga akhirnya, sebuah klik kecil terdengar mikrofon hidup. Aku tarik napas, dan azan pun mengalir dari bibirku. Suaraku menggema, menabrak dinding-dinding yang belum selesai, lalu melayang keluar menembus senja.

Sampai azan usai, belum juga ada yang hadir.

Tak lama kemudian, satu orang datang. Lalu dua. Wajah-wajah yang kukenal sebatas senyum. Hingga jumlah kami sembilan termasuk aku. Waktu tak menunggu. Aku pun berdiri untuk iqamah.

Dan entah bagaimana, jamaah mendorongku maju. Aku yang azan, aku yang iqamah dan kini, aku pula yang diminta menjadi imam. Waduh, batinku. Diborong semua peran. Ada getar kecil di kaki, tapi aku melangkah juga. Aku maju.

Kulaihkan niat. Kulantunkan Al-Fatihah, lalu surat pendek yang tersimpan lama di ingatan bekal dari masa madrasah, ilmu yang rupanya tak pernah benar-benar pergi. Setelah salam, aku pimpin zikir dan doa. Kata-kata itu keluar sederhana, jujur, seperti anak pulang ke pangkuan ibunya.

Usai shalat, kami bersalam-salaman. Beberapa melanjutkan shalat sunnah. Lalu seseorang menyapaku, menanyakan siapa aku, dari mana. Obrolan pun mengalir. Ia bercerita bahwa masjid ini memang masih sepi; jamaahnya itu-itu saja. “Semoga ke depan makin ramai,” katanya, tersenyum. “Alhamdulillah, dengan kamu bertambah satu.”

Aku mengangguk. Lalu, dengan setengah berseloroh, aku berkata, “Tadi saya hitung, Pak—jumlah kita sembilan. Mirip Wali Songo.” Ia tertawa kecil. Aku melanjutkan, “Semoga dari sembilan ini, masjid ini kelak penuh. Dari sedikit, jadi sesak oleh sujud.”

Kami berpisah dengan doa-doa yang ringan tapi panjang umurnya.

Aku pulang menyusuri jalan yang mulai gelap, membawa pikiran yang tak kunjung diam. Warga sebenarnya banyak. Masjidnya pun indah. Lalu mengapa jamaahnya sedikit? Pertanyaan itu menggantung di langit malam seperti bulan yang belum bulat.

Di langkah terakhir menuju rumah, aku menyadari satu hal: mungkin hidayah memang selalu dimulai dari yang kecil. Dari sembilan orang. Dari satu azan yang menggema di masjid setengah jadi. Dari seorang “aku” yang baru belajar menjadi bagian dari cahaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peringatan Isra Miraj 1447 H

ATURAN YANG DILANGGAR

Kembali kepada Allah