Murid Pertama


Sejak senja itu, langkah kakiku seolah telah menemukan arah pulang. Masjid Al Hidayah bukan lagi bangunan yang kupandangi dari kejauhan, melainkan ruang yang memanggil namaku diam-diam. Hari-hariku mulai diukur oleh azan dan iqamah, oleh sajadah yang terbentang, oleh salam yang saling bersahutan.

Aku pun menjadi bagian dari saf yang tetap.

Suatu malam, setelah beberapa kali berdiri di barisan depan, para jamaah menyampaikan sesuatu yang membuatku tercekat. Mereka ingin aku menjadi imam kedua—setelah imam pertama ,  Aku menolak halus. Bukan karena tak mau, tapi karena merasa belum pantas. Namun mereka menilai bukan dari lisanku, melainkan dari apa yang mereka lihat: .

Akhirnya, aku menerima. Dengan hati yang gemetar, tapi pasrah.

Meski begitu, ada satu hal yang terus mengganjal di dadaku. Masjid ini belum hidup sepenuhnya. Ia berdiri, ya. Ia menampung sujud, ya. Tapi belum terdengar suara anak-anak mengaji, belum ada lingkaran ilmu, belum ada cahaya kecil yang menyala di antara huruf-huruf Al-Qur’an. Ia seperti tubuh yang telah tegak, tapi jiwanya belum sepenuhnya pulang.

Hingga suatu ketika, Allah menghadirkan jawaban lewat seorang lelaki sederhana bernama Pak Edy.

Beliau jamaah yang rajin. Subuhnya hampir tak pernah absen. Suaranya sering mengalun dalam azan. Suatu pagi, setelah jamaah bubar dan masjid kembali lengang, beliau mendekatiku. Wajahnya menyimpan sesuatu yang berat.

“Pak…” katanya pelan, suaranya hampir patah, “saya malu.”

Aku menoleh.

“Usia sudah hampir lima puluh… tapi saya belum bisa baca Al-Qur’an.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi mengguncang. Ada kejujuran yang telanjang di sana. Tidak banyak orang berani mengakui kekurangannya, apalagi dalam urusan iman.

Beliau meminta tolong agar aku membimbingnya. Kami pun menyusun waktu. Selepas maghrib. Beliau tak sendiri, anak bungsunya, Jihan, ikut belajar bersama.

Dari obrolan-obrolan kecil, aku tahu beliau memiliki tiga anak. Yang pertama sudah bekerja sebagai seorang TNI, tegap, katanya dengan bangga. Yang kedua mondok di tingkat MA. Dan yang kecil, Jihan, kini duduk bersamaku, membuka Iqro’ dengan mata berbinar.

Pak Edy memulai dari awal. Dari huruf-huruf yang bagi sebagian orang dianggap sepele. Tapi semangatnya, Masya Allah mengalahkan banyak anak muda. Lidahnya terbata, tapi hatinya tak pernah mundur. Kami belajar hingga menjelang Isya. Setiap huruf yang berhasil ia lafalkan dengan benar, wajahnya bersinar seperti anak kecil yang baru bisa mengeja namanya sendiri.

Setelah belajar, beliau sering bercerita. Tentang masa mudanya, tentang kerasnya hidup, tentang keluarga yang ia jaga dengan peluh dan doa. Aku lebih banyak mendengar. Dari kisah-kisah itu, aku belajar tentang tanggung jawab, tentang kesabaran lelaki yang tak banyak mengeluh, tentang cinta yang tak pandai diucap tapi setia diperjuangkan.

Malam demi malam berlalu seperti itu.

Dan setiap kali melangkah pulang selepas Isya, aku selalu tersenyum sendiri di jalan yang remang.

Alhamdulillah.

Masjid itu mulai hidup.

Bukan dari keramaian.

Tapi dari satu orang yang ingin belajar membaca kalam Tuhannya.

Dan di hatiku, terucap pelan,
 murid pertamaku di Masjid Al Hidayah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peringatan Isra Miraj 1447 H

ATURAN YANG DILANGGAR

Kembali kepada Allah