Menumbuhkan Rasa Sykur , Memperoleh Rasa Tenang ...
Pagi seperti biasanya , setelah seblumnya terbangun, kemudian melaksanakan shalat Subuh di Masjid Al-Furqon Desa Kota Praja Kecamatan Air Manjunto (SP 6) , Masjid ini secara arsitektur tidak terlalu istimewa seperti kebanyakan masjid biasa namun yang membedakannya yaitu disetiap habis azan sembari menunggu Jamaah melaksanakan shalat Qobliyah Subuh Muadzin melantunkan Shalawat kepada Junjungan Rasulullah Shlalallahu Alaihi Wassalam , budaya shalawatan ini sperti umumnya masjid masjid di tanah jawa, di Pulau Sumatera khususnya Kabupaten Mukomuko ini , shalawat seperti ini biasanya terdengar di Surau , langgar, atau musholla yang mayoritas penduduknya adalah transmigran Jawa.
Syahdu sekali shalawat ini , dipagi yang dingin ,
bahkan masih sedikit ayam yang berkokok
bersahut sahutan , ada beberapa Jamaah yang usianya sudah lanjut mata beliau
terpejam dan mulutnya membaca kalimah dan tentunya kalimah puji pujian shalawat
. Jamaah di Mushollah Al-Furqon ini mayoritas orang tua yang lebih setengah
abad usianya, ada beberapa Jamaah yang usia 30-40 tahunan dan sedikit sekali
usia 20 tahunan atau remaja , sisanya anak anak usia dibawah 10 tahun,. Jika maghrib jamaah cukup banyak bisa
sampai 3-4 shaf , dikarenakan ba’da
maghrib anak anak belajar mengaji di Masjid ini , selain dari shalat maghrib
Jamaah paling banyak hanya 2 shaff itupun tidak penuh ,,
Yahh,, itu kenyataannya sekarang, saya kadang malu kepada Allahu Robbi , nikmat
telah diberikan begitu banyak , nikmat sehat , nikmat pekerjaan , nikmat iman
dan islam . usia baru seperempat abad , namun alasan demi alasan masih sering
terlintas dibenak saya untuk tidak shalat kemasjid secara berjamaah,, hendak
jadi apa wahai diri ini? tidakkah engkau perhatikan orang tua yang sudah tua ,
keriput kulit wajahnya dan betabur pula ubannya tak pernah sekalipun mereka
beralasan untuk tidak berjamaah , Rabb
mu tak pernah tertidur dan tak pernah lupa kepada hamba , setiap rezki mengalir deras , toh masih mengeluh
jua, tidakkah engkau perhatikan wahai diri
setahun engkau sehat dua hari engkau sakit , engkau Sudah Suudzon kepada
Allah??, ketika hampir Semua target engkau dapatkan , dan satu
target dari keinginanmu gagal engkau raih apa yang engkau katakan ? “Allah tak
sayang Kepadaku” Dasar diri ini masih condong kepada kesesatan dan bujuk rayu
shaitan , ‘A’udzu Billahi Minas Syaithaanirraajim’ harus sering bersyukur atas nikmat Allah , bukankah sudah banyak dalil dari
Al-QurĂ¡n dan Hadist tentang bersykur akan nikmat Allah , diantaranya :
(ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Q.S. Ibrahim : 7)
(ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Q.S. Ibrahim : 7)
Kemudian Allah Berfirman Pula :
Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu
supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu
dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.
(Q.S . Al-Jatsiyah : 12)
ayat inilah yang menjadi warning bagi saya untk senantiasa
bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, detak jantung , udara yang bisa kita
hirup , pekerjaan yang Allah berikan, orang tua yang mendidik kita , keluarga
besar yang mendukung segala cita cita dan harapan , sahabat karib yang baik
yang selalu mengingatkan kita untuk terus melaksanakan kebaikan, itulah hakikat
rezeki yang sesungguhnya.
Masih malaskah kita untuk tidak patuh kepadanya ? masih berleha leha kah kita saat Allah memanggil
kita untuk menghadapNya? Masih malaskah kita untuk menyisihkan rezeki yang
Allah berikan kepada kita untuk orang yang berhak menerimanya ?? Pertanyaan ini cukup membuat kita untuk
tersadar bahwa sejatinya kita tidak berhak untuk tidak mentaatinya segala
perintah dan menjauhi segala larangannya.
Komentar
Posting Komentar