Bangunan Itu Bernama Masjid Al Hidayah


Aku datang sebagai orang baru, bukan sekadar pendatang, tapi seorang yang sedang belajar menjadi bagian dari denyut sebuah kampung. 

Dulu, aku terbiasa hidup di antara rapat, gambar kerja, dan debu proyek. Sebagai konsultan konstruksi di sebuah perusahaan di kabupaten ini, hidupku penuh garis-garis teknis dan hitungan rasional. Namun kini, aku memulai bab baru: hidup sebagai warga biasa, menyapa tetangga, ikut gotong royong, dan belajar memahami irama masyarakat.

Aku tinggal di sebuah desa yang jaraknya tak cukup jauh dari pusat pemerintahan, sekitar tujuh kilometer. Terhitung dekat, kata orang. Tapi bagiku, jarak itu seperti batas antara dua dunia: dunia lama yang penuh ambisi profesional, dan dunia baru yang dipenuhi sapaan sederhana dan kebersamaan.

Di lingkungan tempat tinggalku, berdiri sebuah bangunan yang menarik perhatianku sejak hari pertama. Tegak, kokoh, namun belum selesai sepenuhnya. Rencananya dua lantai, tetapi kini baru satu lantai yang berdiri, seperti cita-cita yang belum rampung, namun sudah cukup kuat untuk memberi harapan. Dindingnya belum sepenuhnya halus, beberapa sudut masih menyisakan bekas adukan semen, tapi justru di sanalah kejujurannya terlihat: ia tumbuh, bukan sekadar dibangun.

Hatiku terasa lapang melihatnya. Ada masjid dekat rumah. Tidak perlu berjalan jauh untuk shalat berjamaah, tidak perlu menempuh jalan panjang untuk mencari ketenangan. Ia ada di sini, di tengah lingkungan, di tengah kehidupan.

Aku teringat masa kuliah, saat tinggal di kompleks perumnas. Bagaimana kami memakmurkan masjid kecil di sana, dengan langkah-langkah sederhana: menyapu lantai, menata sandal, menghidupkan kajian, mengisi malam dengan doa dan zikir. Kenangan itu datang seperti angin sore, pelan, tapi menyejukkan. Dan di dadaku tumbuh sebuah keinginan yang sama: memakmurkan masjid ini, menjadikannya bukan hanya bangunan, tetapi rumah bagi ruh-ruh yang mencari cahaya.

Sering kali aku berdiri memandanginya lama. Diam. Seolah-olah bangunan itu sedang berbicara tanpa suara. Tentang harapan. Tentang masa depan. Tentang orang-orang yang kelak akan sujud di dalamnya, membawa doa masing-masing, membawa luka dan harapan mereka sendiri.

Baru kemudian aku tahu namanya.

Ya Bangunan itu bernama Masjid Al Hidayah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peringatan Isra Miraj 1447 H

ATURAN YANG DILANGGAR

Kembali kepada Allah